Sabtu, 01 Desember 2018

MAKALAH TEORI KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM


TEORI KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok matakuliah Pengembangan Kepribadian Guru
DosenPengampu :
Taufik Mustafa. M.Pd.I


DisusunOleh:
Kelompok 7
Egi Tia SaepulSidik/ 2016.01019
Dian Herdianti/2016.01017
NurAjijah / 2016.01050
SyifaFauzia/ 2016.01071


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-FALAH
CICALENGKA - BANDUNG
2018





KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Teori Kepribadian dalam Perspektif Islam”.
Makalah  ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah  ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Cicalengka, November 2018

Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................... 1
C.     Tujuan................................................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Manusia................................................................................................. 2
B.     Makna Kepribadian............................................................................................ 3
C.     Dinamika Kepribadian........................................................................................ 7
D.    Tipe Kepribadian................................................................................................ 10
E.     Perkembangan Kepribadian................................................................................ 10
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................................... 13
B.     Saran................................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 14




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Allah telah menggambarkan kepribadian manusia dalam Al-Qur’an dan keistimewaan yang di milikinya, serta yang  membedakan dari makhluk Allah lainnya,  juga telah menjelaskan berbagai model kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan di banding model kepribadian makhluk lainnya.
Dalam pandanagn Islam, kepribadian merupakan interaksi dari kualitas-kualitas nafs,qlb,‘akl, dan bashirohnya (interkasi antara jiwa, hati,akal, dan hati nuraninya).
Kepribadian seseorang, selain bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, ia juga terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya. Proses intemalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya.
Ada tipe kepribadian dan tingkatannya, yang  akan di perinci dalam isi karya ilmiah yang kami susun ini, tentunya akan sangat menarik untuk di diskusikan dan di implementasikan dalam keseharian.
Oleh sebab itu, kami tergugah untuk merampungkan karya ilmiah ini, mengingat masalah kepribadian menjadi masalah yang pelik dan menarik di dalam semua lapisan masyarakat.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Apa sajakah hakikat manusia?
2.    Bagaimana makna kepribadian?
3.    Seperti apakah dinamika kepribadian?
4.    Bagaimanakah tipe-tipe kepribadian?
5.    Seperti perkembangan kepribadian?
C.    TUJUAN
Makalah yang kami susun ini memiliki tujuan agar para pembaca dapat mengetahui materi mengenai TEORI KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM, dan lebih faham akan rinciannya seperti hakikat manusia, mengetahui makna kepribadian manusia, memahami dinamika kepribadian, memahami temtang tipe kepribadian, dan perkembangan kepribadian.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    HAKIKAT MANUSIA
1.    Manusia Adalah Makhluk Allah
Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau hasil proses evolusi alami, melainkan kehendak Yang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamin. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya mempunyai ketergantungan (dependent) kepada-Nya.Manusia tidak bisa lepas dari ketentuan-Nya.Sebagai makhluk, manusia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti tidak bisa menolak, menentang, atau merekayasa yang sudah dipastikan-Nya. 
2.    Manusia Adalah Khalifah di Muka Bumi 
Hal ini berarti, manusia berdasarkan fitrahnya adalah makhluk sosial yang bersifat altruis (mementingkan/membantu orang lain). Menilik fitrahnya ini, manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial secara positif dan konstruktif dengan orang lain atau lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah, atau tanggung jawab (responsibility) untuk berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera; dan berupaya mencegah (preventif) terjadinya pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dan perusakan lingkungan hidup (regional-global). 
3.    Manusia adalah Makhluk yang Mempunyai Fitrah Beragama 
Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.
4.    Manusia Berpotensi Baik (Takwa) dan Buruk (Fujur) 
Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat positif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur, sifat negatif (musyrik, kufur, dan berbuat ma’syiat/jahat/buruk/dzalim). Dua kutub kekuatan ini, saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nilai-nilai kebenaran), dan Kutub lain mendorong individu untuk berperilaku secar inpulsif (dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian, mmanusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk. 

B.     MAKNA  KEPRIBADIAN
1.    Makna Etimologi Kepribadian Islam 
Personality berasal dari kata “person” yang secara bahasa memiliki arti: (1) an individual human being (sosok manusia sebagai individu); (2) a common individual (individu secara umum); (3) a living human body (orang yang hidup); (4) self (pribadi); personal existence or identity (eksistensi atau identitas pribadi); dan (6) distinctive personal character (kekhususan karakter individu). 

Sedangkan dalam bahasa Arab , pengertian etimologis kepribadian dapat dilihat dari pengertian dari term-term pandangannya. Seperti huwiyah, aniyah, dzattiyah, nafsiyyah, khuluqiyyah, dan syakhshiyyah sendiri.

Pertengahan abad XIX didakwahkan sebagai abad kelahiran psikologi kepribadian kontemporer didunia Barat.Saat inilah Psikologi Kepribadian (dalam arti, personologi) dinobatkan sebagai disiplin ilmu yang mandiri.Bersamaan abd ini pula, umat Islam telah abngun dari tidur panjangnya.Mereka mencoba berbenah diri untuk mengejar ketinggalan yang ada, khususnya dibidang sains.Oleh keadaan yang masih transisi inilah maka umat Islam kurang berminat menggali khazanahnya sendiri.Mereka lebih muncul kemudian adalah diskursus-diskursus keilmuan Islam modern (baik filsafat maupun psikologi) lebih akrab menggunakan istilah syakhshiyyah (personality) dari pada khuluq (karakter).Pemilihan term ini bukan tidak beralasan bahkan suatu kesengajaan. Tujuan utamanya adalah agar diskursus ilmu keislaman lebih dikenal oleh dunia lain. Isi dan substansinya mencerminkan nilai-nilai universal Islam, sementara simbol dan “bungkus”nya mengadopsi dari Barat. 

Perubahan semantik ini apakah tidak mengubah konsep aslinya, sedangkan kedua term itu jelas-jelas dibedakan dalam diskursus psikologi.Terlebih lagi jika term itu dihadapkan pada orang awam, apakah hal itu tidak semakin memasukkannya kedalam “liang biawak”. 

2.    Makna Terminologi Kepribadian Islam 
Pengertian kepribadian dari sudut terminologi memiliki banyak definisi, karena hal itu berkaitan dengan konsep-konsep empiris dan filosofis tertentu yang merupakan bagian dari teori kepribadian.Konsep-konsep empiris dan filosofis disini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan, fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup, dan metodologi yang dipakai rumus.Oleh sebab itu, tidak satupun definisi yang subtantif kepribadian dapat diberlakukan secara umum, sebab masing-masing definisi dilatar belakangi oleh konsep-konsep empiris dan filosofis yang berbeda-beda.Dengan begitu tidak berkelebihan jika Allport-- dalam studi kepustakaannya—menemukan sejumlah 50 definisi mengeinai kepribadian yang berbeda-beda yangdigolongkan kedalam sejumlah kategori. 

Dengan meminjam definisi Allport, kepribadian secara sederhana dapat dirumuskan dengan definisi “what a man really is” (manusian sebagai mana adanya). Maksudnya, manusia sebagaimana sunnah atau kodratnya, yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Definisi yang luas dapat berpijak pada struktur kepribadian, yaitu integrasi sistem kalbu, akal dan hawa nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku. “definisi ini sebagai bandingan dengan definisi yang dikemukakan oleh para psikolog psikoanalitik seperti Sigmun Freuddan Cherly Gustav Jung.

Dalam diri manusia terdapat elemen jasmani sebagai strukturbiologis kepribadiannya dan elemen ruhani sebagai struktur psikologis kepribadiannya.Sinergi kedua elemen ini disebut dengan nafsani yang merupakan struktur psikofisik kepribadain manusia. Struktur nafsani memiliki tiga daya, yaitu (1) qolbu yang memiliki fitrah keTuhanan (ilahiyah) sebagai aspek supra—kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya emosi (rasa); (2) akal yang memiliki fitrah kemanusiaan (isaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya kognisi (cipta); dan (3) nafsu yang memiliki fitrah kehewanan (hayawaniyyah) sebagai aspek pra atau bawah-kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya konasi (karsa). 

Jadi, dari sudut tingkatnya maka kepribadain itu merupakan integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (KeTuhanan), kesadaran (kemanusiaan), dan pra—atau bawah kesadaran (kebinatangan).Sedang dari sudut fungsinya, kepribadain merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi, dan konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dsb) maupun tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dsb). 

3.    Makna Psikologi Kepribadian Islam 
Perumusan makna psikologi kepribadian Islam memiliki arti bagaimana Islam mendefinisikan kepribadian dari sudut pandang psikologis. Frame kajiannya tetap pada studi Islam yang menelaah terhadap fenomena perilaku manusia dari sudut pandang psikologis, sebab satu-satunya wacana yang eksis hanyalah Islam, sementara psikologi disini hanya satu pendekatan studi dalam studi Islam. 

Berdasarkan pengertian kepribadaian di atas maka yang dimaksud dengan Psikologi Kepribadain Islam adalah “studi Islam yang berhubungan dengan tingkah laku manusia berdasarkan pendekatan psikologis dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada sang Khalik-Nya agar dapat meningkatkan kualitas hisup di dunia dan akhirat.” Rumusan tersebut memiliki lima kompenen dasar yakni sebagai berikut. 

Pertama, Studi Islam. Psikologi Kepribadian Islam merupakan salah satu kajian dalam studi keislaman, bukan bagian dari studi (atau cabang) psikologi. Sebagai disiplin ilmu keislaman, ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin keislaman yang lain, seperti teologi Islam, hukum Islam, ekonomi Islam, kebudayaan Islam, polotik Islam, dan sebaginya. Penggunaan term Islam disini memiliki arti corak, pola pikir, atau aliran dalam psikologikepribadian, yang memiliki eksistensi unik dibading dengan aliran psikologi kepribadian lain. Keunikannya baik dari aspek ontologi, epistimologi maupun aksiologinya. Studi Islam di sini juga memiliki arti bahwa bangunan kepribadain didasarkan atas Alquran, al-Sunnah,khazanah Islam sendiri, bukan dari bangunan kepribadain Barat. 

Kedua, yang berhubungan dengan tingkah laku, manusia.Psikologi Kepribadain Islam mempelajari tingkah laku manusia.Dalam bentuk potensial, seluruh tingkah laku manusiatelah memilki takdir atau sunnatullah yang ditetapkan oleh Tuhan, meskipun takdir yang dimaksud memiliki banyak pilihan.Namun dalam bentuk aktual, manusia diberi kebebasan untuk mengekspresikannya, sehingga menimbulkan dinamika tingkah laku. Setiap tingkah laku memilki citra (image) dan keunikan tersendiri sesuai sesuai apa yang terdapat pada pelakunya. Tingkah laku disini bisa berupatingkah laku lahir maupun tingkah laku batin atau kedua-duanya.Tingkah laku lahir ada yang mencerminkan tingkah laku batinnya dan ada juga yang berbeda.Baik mencerminkan atau tidak semuanya disebut dengan tingkah laku. 

Ketiga, berdasarkan pendekatan psikolohid.Studi tentang kepribadian dapat didekati dengan beberapa pendekatan, misalnya filsafat, psikologi, antropologi, dan sebagainya.Psikologi Kepribadain Islam merupaka\n studi kepribadain Islam yang dipandang dari sudut psikologi. Studi ini setidak-tidaknya menggambarkan apa dan bagaimana tingkah laku manusia menurut pandangan Islam yang ditimbulkan dari jiwanya. 

Kempat, dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada Sang Khalik.Psikologi Kepribadain Islam mengkaji tingkah laku manusia dengan berpijak pada fungsi kehidupan manusia.Manusia adalah sebagai mandataris Sang Khalik untuk menjadai khalifah dimuka bumi.Dalam bertingkah laku, manusia selain diberi potensi fitrah, juga memiliki relasi sesamanya dan dikaruniai alam dan isinya untuk dikelola yang baik.Oleh karena kedudukan ini maka setiap realisasi tingkah laku manusia merupakan cerminan ibadah, baik berkaitang dengan Tuhan, diri sendiri, sesamanya, serta pada alam semesta.

Kelima, untuk meningkatkan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Psikologi kepribadian Islam syarat akan nilai, yang dapat menghantarkan kebahagiaan hidup manusia. Kebahagian yang dimaksud tidak terbatas pada kebahagiaan duniawi yang sifatnya temporer dan semu, tetapi juga kebahgiaan ukhrowi yang sifatnya abadi dan hakiki. Pda aspek ini, Psikologi Kepribadain Islam bukan sekedar memotret dan mengidentifikasi tingkah laku (bicara apa adanya), melainkan juga mengungkap bagaimana seharusnya tingkah laku itu. Tentunya dalam hal ini tidak terlepas norma-norma baik-buruk yang telah ditetapka oleh Sang Khalik.Oleh karena tujuan ini maka studi Psikologi Kepribadain Islam diharapkan memiliki implikasi penting dalam kehidupan manusia.

C.    DINAMIKA KEPRIBADIAN
Kepribadian menurut psikologi islami adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku. Aspek nafsani manusia memiliki tiga daya, yaitu: (1) qalbu (fitrah ilahiyah) sebagai aspek suprakesadaran manusia yang memiliki daya emosi (rasa); (2) akal (fitrah insaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi (cipta); (3) nafsu (fitrah hayawaniyah) sebagai aspek pra atau bawah kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa).Ketiga komponen nafsani ini berintegrasi untuk mewujudkan suatu tingkah laku.Qalbu memiliki kecenderungan natur ruh, nafs (daya syahwat dan ghadhab) memiliki kecenderungan natur jasad, sedangkan akal memiliki kecenderungan antara ruh dan jasad. Dari sudut tingkatannya, kepribadian itu merupakan integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (fitrah ketuhanan), kesadaran (fitrah kemanusiaan), dan pra atau bawah sadar (fitrah kebinatangan). Sedang dari sudut fungsinya, kepribadian merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi dan konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dan sebagainya) maupun tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dan sebagainya)12 . Kepribadian sesungguhnya merupakan produk dari interaksi di antara ketiga komponen tersebut, hanya saja ada salah satu yang lebih mendominasi dari komponen yang lain. Dalam interaksi itu kalbu memiliki posisi dominan dalam mengendalikan suatu kepribadian. Prinsip kerjanya cenderung pada fitrah asalmanusia, yaitu rindu akan kehadiran Tuhan dan kesucian jiwa. Aktualitas kalbu sangat ditentukan oleh sistem kendalinya.Sistem kendali yang dimaksud adalah dhamir yang dibimbing oleh fitrah al-munazzalah (Al-Qur’an dan Sunnah).Apabila sistem kendali ini berfungsi sebagaimana mestinya, maka kepribadian manusia sesuai dengan amanat yang telah diberikan oleh Allah di alam perjanjian. Namun, apabila sistem kendali berfungsi maka kepribadian manusia akan dikendalika oleh komponen lain yang lebih rendah kedudukannya.
a.       Kepribadian Ammarah (nafsal-ammarah)
Kepribadian ammarah adalah kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar prinsip-prinsip kenikmatan (pleasure principle).Kepribadian ammarah mendominasi peran kalbu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela.Kepribadian ammarah adalah kepribadian yang dipengaruhi oleh dorongandorongan bawah sadar manusia.Barangsiapa yang berkepribadian ini, maka sesungguhnya tidak lagi memiliki identitas manusia, sebab sifat-sifathumanitasnya telah hilang. Manusia yang berkepribadian ammarah tidak saja dapat merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak diri orang lain. Keberadaannya ditentukan oleh dua daya, yaitu: (1) syahwat yang selalu menginginkan birahi, kesukaan diri, ingin tau dan campur tangan urusan orang lain, dan sebagainya; (2) daya ghadah yang selalu menginginkan tamak, serakah, mencekal, berkelahi, ingin menguasai orang, keras kepala, sombong, angkuh, dan sebagainya. Jadi orientasi kepribadian ammarah adalah mengikuti sifat binatang.Kepribadian ammarah dapat beranjak ke kepribadian yang baik apabila telah diberi rahmat oleh Allah SWT.Hal tersebut diperlukan latihan atau riyadhah khusus untuk menekan daya nafsu dari hawa, seperti dengan berpuasa, shalat, berdoa dan sebagainya.

b.      Kepribadian Lawwamah (nafsal-lawwamah)
Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang telah memperolah cahaya kalbu, lalu ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangan antara dua hal. Dalam upaya yaitu kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebutkan oleh watak gelapnya, namun kemudian ia diingatkan oleh nurilahi, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya ia bertaubat dan beristighfar.14Hal itu dapat dipahami bahwa kepribadian lawwamah berada dalam kebimbangan antara kepribadian ammarah dan kepribadian muthmainnah. Kepribadian lawwamah merupakan kepribadian yang didominasi oleh akal.Sebagai komponen yang memiliki sifat insaniah, akal mengikuti prinsip kerja rasionalistik dan realistik yang membawa manusia pada tingkat kesadaran.Apabila sistem kendalinya berfungsi, maka akal mampu mencapai puncaknya seperti berpaham rasionalisme.Rasionalisme banyak dikembangkan oleh kaum humanis yang mengorientasikan pola pikirnya pada kekuatan “serba” manusia, sehingga sifatnya antroposentris.15 Akal apabila telah diberi percik annur kalbu maka fungsinya menjadi baik.Ia dapat dijadika sebagai salah satu medis untuk menuju Tuhan. Al-Ghazali sendiri meskipun sangat mengutamakan pendekatan cita rasa (zawq), namun iamasih menggunakan kemampuan akal. Sedangkan menurut Ibnu Sina, akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak dan akal juga mampu menerima limpahan pengetahuan dari Tuhan.Oleh karena kedudukan yang tidak stabil ini, maka Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi kepribadian lawwamah menjadi dua bagian, yaitu: (1) kepribadian lawwamahmalumah, yaitu kepribadian lawwamah yang bodoh dan zalim; (2) kepribadian lawwamah ghayrmalumah, yaitu kepribadian yang mencela atas perbuatannya yang buruk dan berusaha untuk memperbaikinya

c.       Kepribadian Muthmainnah (nafsal-muthmainnah)
Kepribadian muthmainnah adalah kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat yang baik.Kepribadian ini selalu berorientasi pada komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya menjadi tenang.Kepribadian muthmainnahbersumber dari qalbu manusia, sebab hanya qalbu yang mampu merasakan thuma’ninah (QS. Al-Ra’d, [13]: 28). Sebagai komponen yang bernatur ilahiah qalbu selalu cenderung pada ketenangan dalam beribadah, mencintai, bertaubat, bertawakkal, dan mencari ridha Allah Swt. Orientasi kepribadian ini adalah teosentris (QS Al-Nazi’at [79]: 40-41).
17 Kepribadian muthmainnah merupakan kepribadian atas dasar atau suprakesadaran manusia, dengan orientasi kepribadian ini adalah teosentris.Dikatakan demikian sebab kepribadian ini merasa tenang dalam menerima keyakinan fitrah.Keyakinan fitrah adalah keyakinan yang dihujamkan pada roh manusia di alam arwah dan kemudian dilegitimasi oleh wahyu Ilahi.Penerimaan ini tidak bimbang apalagi ragu-ragu seperti yang dialami kepribadian lawwamah, tetapi penuh keyakinan.Oleh sebab itu, kepribadian muthmainnah terbiasa menggunakan daya cita rasa (zawq) dan mata batin dalam menerima sesuatu, sehingga Kepribadian muthmainnah merasa yakin dan tenang.

D.    TIPE KEPRIBADIAN
1.      Tipe Mukmin 
Yaitu mereka yang beriman atau percaya kepada yang ghaib seperti (Allah, malaikat, dan ruh) menunaikan shalat, menafkahkan rezekinya kepada fakir miskin dan yatim piatu, beriman kepada kitab Allah, dan beriman kepada hari akhir. Tipe ini digolongkan sebagai tipe dengan beruntung (mufidh) karena telah mendapatkan petunjuk.

2.      Tipe Kafir 
Yaitu mereka yang ingkar terhhadapp hal-hal yang dipercayai sebagai seorang mukmin.Tipe seperti ini digammbarkan sebagai tipe yang sesat karena terkunci hati, pendengaran dan penglihatannya dalam masalah kebenarannya.

3.      Tipe Munafik 
Yaitu mereka yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, tetapi imannya hanya di mulut belaka, senantiasa hatinya ingkar. Mereka ingin menipu Allah dan orang mukmin, walaupun sebenarnya ia menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar.

E.     PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak dapat disamakan satu dengan yang lainnya. Tetapi secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Fase Pertama
Fase pertama dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak mulai mengenal dirinya sendiri.
2.      Fase Kedua
Fase ini merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan mengembangkan bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini berlangsung relative panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal berikut:
a)      Dorongan-dorongan (Drives)
Unsur ini merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan.
b)      Naluri (Istinct)
Naluri merupakan suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk hidup.
c)      Getaran Hati (Emosi)
Emosi atau getaran hati merupakan sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada manusia, seperti senang, sedih, indah, serasi, dan yang lainnya.
d)     Perangai
Perangai merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsure dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasikan oleh orang lain.
e)      Inteligensi (Intellegence Quetient-IQ)
Intelegensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang.
f)       Bakat (Talent)
Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang, berpolitik, dan lainnya.
3.      Fase Ketiga
Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terkhir yang ditandai dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dari orang tersebut. Pada fase ketiga terjadi perkembangan yang relative tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku-perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak.

Setelah kepribadian terbentuk secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu:
a)      Kepribadian Normative
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, dimana seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa sebelumya. Seseorang memiliki kepribadian normative apabila terjadi proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi adri orang lain.

b)      Kepribadian Otoriter (Otoriter Man)
Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan orang lain.

c)      Kepribadian Perbatasan
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relative labil di mana cirri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya seringkali mengalami perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah  seseorang itu mempunyai lebih dari satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualism budaya, misalnya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya yang berbeda.


BAB III
PENUTUP
Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Hakikat manusia antara lain:
a)      Manusia adalah Makhluk Allah
b)      manusia sebagai khalifah di bumi
c)      manusia dlah makhluk yang memiliki fitrah beragama
d)     manusia berpotensi baik(taqwa) dan buruk(fujur)
e)      Manusia Memiliki Kebebasan Memilih (Free Choice)

2.      Dari berbagai definisi di atas, maka dapat di simpulkan bahwa kepribadian adalah kolaborasi antara akal, hati nurani, dan jiwa yang saling berinteraksi.Kepribadian seseorang, selain bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, ia juga terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya. Proses intemalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya.

3.      Id/nafsu, ego/akal,dan Superego/ Qalbu, merupakan tiga unsur kepribadian.

4.      Manusia adalah makhluk yang netral, kepribadiannya itu bisa berkembang seperti malaikat, bisa juga seperti syetan. Hal ini amat bergantung kepada pilihannya tadi, apakah manusia mengisi jiwa atau kalbunya dengan ketakwaan atau dengan fujur. Apabila yang dipilihnya itu ketakawaan, maka kalbu (fungsi rohaniah sebagai perpaduan antara akal dan rasa) akan menggerakkannya untuk berperilaku yang bermakna (beramal shaleh) dan berpribadi mulia. Tetapi apabila yang dipilihnya itu "fujur", maka dia akan berpribadi mufsid (pembuat keonaran di muka bumi), biang kemaksiatan.

5.      Ada dua macam tipe kepribadian, yaitu tipe kepribadian mu’min, dan tipe kapribadian kafir, sedangkan tingkatan kepribadian ada tujuh macam, yaituAn-Nafs al-Ammarah, An-Nafs al-Lawwamah, An- Nafs Qana’ah, An- Nafs al-Mulhima,  An-Nafs al-Mut’mainnah, An-Nafs al-Radiyah, An-Nafs Kamila.


B.     SARAN
Berdasarkan pembahasan yang telah penulis paparkan,penulis berharap kepada para pembaca agar bisa mengetahui tentang kepribadian dalam perspektif  islam, karena kepribadian menjadi masalah urgen di era ini. Karya ilmiah ini di susun, selain sebagai bahan bacaan juga bertujuan memberikan pengertian penting tentang kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA

Taufiq, Muhammad Izzudin.2006.Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam.Jakarta: Gema Insani
Az-Zahrah, Musfin Bin Said Bin Muhammad.2009. Konseling Terapi. Jakarta: Gema Insani


MAKALAH TEORI KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

TEORI KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM Disusun untuk memenuhi tugas kelompok matakuliah Pengembangan Kepribadian Guru DosenPe...