TEORI
KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok matakuliah Pengembangan Kepribadian Guru
DosenPengampu
:
Taufik
Mustafa. M.Pd.I
DisusunOleh:
Egi Tia SaepulSidik/
2016.01019
Dian
Herdianti/2016.01017
NurAjijah
/ 2016.01050
SyifaFauzia/
2016.01071
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM AL-FALAH
CICALENGKA
- BANDUNG
2018
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Teori Kepribadian dalam Perspektif
Islam”.
Makalah ini telah kami susun
dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Cicalengka, November
2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.................................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................................... 1
C.
Tujuan................................................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Manusia................................................................................................. 2
B.
Makna
Kepribadian............................................................................................ 3
C.
Dinamika
Kepribadian........................................................................................ 7
D.
Tipe
Kepribadian................................................................................................ 10
E.
Perkembangan
Kepribadian................................................................................ 10
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan......................................................................................................... 13
B.
Saran................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Allah telah menggambarkan kepribadian manusia dalam
Al-Qur’an dan keistimewaan yang di milikinya, serta yang membedakan dari makhluk Allah lainnya, juga telah menjelaskan berbagai model
kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan di banding model kepribadian
makhluk lainnya.
Dalam pandanagn Islam, kepribadian merupakan
interaksi dari kualitas-kualitas nafs,qlb,‘akl, dan bashirohnya (interkasi
antara jiwa, hati,akal, dan hati nuraninya).
Kepribadian seseorang, selain bermodal kapasitas
fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, ia juga terbentuk
melalui proses panjang riwayat hidupnya. Proses intemalisasi nilai pengetahuan
dan pengalaman dalam dirinya.
Ada tipe kepribadian dan tingkatannya, yang akan di perinci dalam isi karya ilmiah yang
kami susun ini, tentunya akan sangat menarik untuk di diskusikan dan di
implementasikan dalam keseharian.
Oleh sebab itu, kami tergugah untuk merampungkan
karya ilmiah ini, mengingat masalah kepribadian menjadi masalah yang pelik dan
menarik di dalam semua lapisan masyarakat.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa sajakah hakikat manusia?
2.
Bagaimana makna kepribadian?
3.
Seperti apakah dinamika
kepribadian?
4.
Bagaimanakah tipe-tipe
kepribadian?
5.
Seperti perkembangan kepribadian?
C.
TUJUAN
Makalah yang kami susun ini
memiliki tujuan agar para pembaca dapat mengetahui materi mengenai TEORI
KEPRIBADIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM, dan lebih faham akan rinciannya seperti
hakikat manusia, mengetahui makna kepribadian manusia, memahami dinamika
kepribadian, memahami temtang tipe kepribadian, dan perkembangan kepribadian.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
HAKIKAT MANUSIA
1.
Manusia Adalah Makhluk Allah
Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau
hasil proses evolusi alami, melainkan kehendak Yang Maha Kuasa, Allah Robbul
‘Alamin. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya mempunyai ketergantungan
(dependent) kepada-Nya.Manusia tidak bisa lepas dari ketentuan-Nya.Sebagai
makhluk, manusia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti tidak bisa
menolak, menentang, atau merekayasa yang sudah dipastikan-Nya.
2.
Manusia Adalah Khalifah di Muka Bumi
Hal ini berarti, manusia berdasarkan fitrahnya adalah makhluk
sosial yang bersifat altruis (mementingkan/membantu orang lain). Menilik
fitrahnya ini, manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk bersosialisasi,
berinteraksi sosial secara positif dan konstruktif dengan orang lain atau
lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah, atau tanggung jawab
(responsibility) untuk berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan
tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera; dan berupaya mencegah
(preventif) terjadinya pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dan perusakan
lingkungan hidup (regional-global).
3.
Manusia adalah Makhluk yang Mempunyai Fitrah Beragama
Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.
Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.
4.
Manusia Berpotensi Baik (Takwa) dan Buruk (Fujur)
Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat positif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur, sifat negatif (musyrik, kufur, dan berbuat ma’syiat/jahat/buruk/dzalim). Dua kutub kekuatan ini, saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nilai-nilai kebenaran), dan Kutub lain mendorong individu untuk berperilaku secar inpulsif (dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian, mmanusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk.
Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat positif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur, sifat negatif (musyrik, kufur, dan berbuat ma’syiat/jahat/buruk/dzalim). Dua kutub kekuatan ini, saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nilai-nilai kebenaran), dan Kutub lain mendorong individu untuk berperilaku secar inpulsif (dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian, mmanusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk.
B. MAKNA KEPRIBADIAN
1. Makna Etimologi Kepribadian Islam
Personality berasal dari kata “person” yang secara bahasa
memiliki arti: (1) an individual human being (sosok manusia sebagai individu);
(2) a common individual (individu secara umum); (3) a living human body (orang
yang hidup); (4) self (pribadi); personal existence or identity (eksistensi
atau identitas pribadi); dan (6) distinctive personal character (kekhususan
karakter individu).
Sedangkan dalam bahasa Arab , pengertian etimologis kepribadian dapat dilihat dari pengertian dari term-term pandangannya. Seperti huwiyah, aniyah, dzattiyah, nafsiyyah, khuluqiyyah, dan syakhshiyyah sendiri.
Sedangkan dalam bahasa Arab , pengertian etimologis kepribadian dapat dilihat dari pengertian dari term-term pandangannya. Seperti huwiyah, aniyah, dzattiyah, nafsiyyah, khuluqiyyah, dan syakhshiyyah sendiri.
Pertengahan abad XIX didakwahkan sebagai abad kelahiran
psikologi kepribadian kontemporer didunia Barat.Saat inilah Psikologi
Kepribadian (dalam arti, personologi) dinobatkan sebagai disiplin ilmu yang
mandiri.Bersamaan abd ini pula, umat Islam telah abngun dari tidur
panjangnya.Mereka mencoba berbenah diri untuk mengejar ketinggalan yang ada,
khususnya dibidang sains.Oleh keadaan yang masih transisi inilah maka umat
Islam kurang berminat menggali khazanahnya sendiri.Mereka lebih muncul kemudian
adalah diskursus-diskursus keilmuan Islam modern (baik filsafat maupun
psikologi) lebih akrab menggunakan istilah syakhshiyyah (personality) dari pada
khuluq (karakter).Pemilihan term ini bukan tidak beralasan bahkan suatu
kesengajaan. Tujuan utamanya adalah agar diskursus ilmu keislaman lebih dikenal
oleh dunia lain. Isi dan substansinya mencerminkan nilai-nilai universal Islam,
sementara simbol dan “bungkus”nya mengadopsi dari Barat.
Perubahan semantik ini apakah tidak mengubah konsep aslinya, sedangkan kedua term itu jelas-jelas dibedakan dalam diskursus psikologi.Terlebih lagi jika term itu dihadapkan pada orang awam, apakah hal itu tidak semakin memasukkannya kedalam “liang biawak”.
Perubahan semantik ini apakah tidak mengubah konsep aslinya, sedangkan kedua term itu jelas-jelas dibedakan dalam diskursus psikologi.Terlebih lagi jika term itu dihadapkan pada orang awam, apakah hal itu tidak semakin memasukkannya kedalam “liang biawak”.
2. Makna Terminologi Kepribadian Islam
Pengertian kepribadian dari sudut terminologi memiliki banyak
definisi, karena hal itu berkaitan dengan konsep-konsep empiris dan filosofis
tertentu yang merupakan bagian dari teori kepribadian.Konsep-konsep empiris dan
filosofis disini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan,
fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup, dan metodologi yang dipakai rumus.Oleh
sebab itu, tidak satupun definisi yang subtantif kepribadian dapat diberlakukan
secara umum, sebab masing-masing definisi dilatar belakangi oleh konsep-konsep
empiris dan filosofis yang berbeda-beda.Dengan begitu tidak berkelebihan jika
Allport-- dalam studi kepustakaannya—menemukan sejumlah 50 definisi mengeinai
kepribadian yang berbeda-beda yangdigolongkan kedalam sejumlah kategori.
Dengan meminjam definisi Allport, kepribadian secara
sederhana dapat dirumuskan dengan definisi “what a man really is” (manusian
sebagai mana adanya). Maksudnya, manusia sebagaimana sunnah atau kodratnya,
yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Definisi yang luas dapat berpijak pada
struktur kepribadian, yaitu integrasi sistem kalbu, akal dan hawa nafsu manusia
yang menimbulkan tingkah laku. “definisi ini sebagai bandingan dengan definisi
yang dikemukakan oleh para psikolog psikoanalitik seperti Sigmun Freuddan
Cherly Gustav Jung.
Dalam diri manusia terdapat elemen jasmani sebagai
strukturbiologis kepribadiannya dan elemen ruhani sebagai struktur psikologis
kepribadiannya.Sinergi kedua elemen ini disebut dengan nafsani yang merupakan
struktur psikofisik kepribadain manusia. Struktur nafsani memiliki tiga daya,
yaitu (1) qolbu yang memiliki fitrah keTuhanan (ilahiyah) sebagai aspek
supra—kesadaran manusia yang berfungsi sebagai daya emosi (rasa); (2) akal yang
memiliki fitrah kemanusiaan (isaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang
berfungsi sebagai daya kognisi (cipta); dan (3) nafsu yang memiliki fitrah
kehewanan (hayawaniyyah) sebagai aspek pra atau bawah-kesadaran manusia yang
berfungsi sebagai daya konasi (karsa).
Jadi, dari sudut tingkatnya maka kepribadain itu merupakan
integrasi dari aspek-aspek supra-kesadaran (KeTuhanan), kesadaran
(kemanusiaan), dan pra—atau bawah kesadaran (kebinatangan).Sedang dari sudut
fungsinya, kepribadain merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi, dan
konasi, yang terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dsb) maupun
tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dsb).
3. Makna Psikologi Kepribadian Islam
Perumusan makna psikologi kepribadian Islam memiliki arti
bagaimana Islam mendefinisikan kepribadian dari sudut pandang psikologis. Frame
kajiannya tetap pada studi Islam yang menelaah terhadap fenomena perilaku
manusia dari sudut pandang psikologis, sebab satu-satunya wacana yang eksis
hanyalah Islam, sementara psikologi disini hanya satu pendekatan studi dalam
studi Islam.
Berdasarkan pengertian kepribadaian di atas maka yang dimaksud dengan Psikologi Kepribadain Islam adalah “studi Islam yang berhubungan dengan tingkah laku manusia berdasarkan pendekatan psikologis dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada sang Khalik-Nya agar dapat meningkatkan kualitas hisup di dunia dan akhirat.” Rumusan tersebut memiliki lima kompenen dasar yakni sebagai berikut.
Pertama, Studi Islam. Psikologi Kepribadian Islam merupakan salah satu kajian dalam studi keislaman, bukan bagian dari studi (atau cabang) psikologi. Sebagai disiplin ilmu keislaman, ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin keislaman yang lain, seperti teologi Islam, hukum Islam, ekonomi Islam, kebudayaan Islam, polotik Islam, dan sebaginya. Penggunaan term Islam disini memiliki arti corak, pola pikir, atau aliran dalam psikologikepribadian, yang memiliki eksistensi unik dibading dengan aliran psikologi kepribadian lain. Keunikannya baik dari aspek ontologi, epistimologi maupun aksiologinya. Studi Islam di sini juga memiliki arti bahwa bangunan kepribadain didasarkan atas Alquran, al-Sunnah,khazanah Islam sendiri, bukan dari bangunan kepribadain Barat.
Berdasarkan pengertian kepribadaian di atas maka yang dimaksud dengan Psikologi Kepribadain Islam adalah “studi Islam yang berhubungan dengan tingkah laku manusia berdasarkan pendekatan psikologis dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada sang Khalik-Nya agar dapat meningkatkan kualitas hisup di dunia dan akhirat.” Rumusan tersebut memiliki lima kompenen dasar yakni sebagai berikut.
Pertama, Studi Islam. Psikologi Kepribadian Islam merupakan salah satu kajian dalam studi keislaman, bukan bagian dari studi (atau cabang) psikologi. Sebagai disiplin ilmu keislaman, ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin keislaman yang lain, seperti teologi Islam, hukum Islam, ekonomi Islam, kebudayaan Islam, polotik Islam, dan sebaginya. Penggunaan term Islam disini memiliki arti corak, pola pikir, atau aliran dalam psikologikepribadian, yang memiliki eksistensi unik dibading dengan aliran psikologi kepribadian lain. Keunikannya baik dari aspek ontologi, epistimologi maupun aksiologinya. Studi Islam di sini juga memiliki arti bahwa bangunan kepribadain didasarkan atas Alquran, al-Sunnah,khazanah Islam sendiri, bukan dari bangunan kepribadain Barat.
Kedua, yang berhubungan dengan tingkah laku,
manusia.Psikologi Kepribadain Islam mempelajari tingkah laku manusia.Dalam
bentuk potensial, seluruh tingkah laku manusiatelah memilki takdir atau
sunnatullah yang ditetapkan oleh Tuhan, meskipun takdir yang dimaksud memiliki
banyak pilihan.Namun dalam bentuk aktual, manusia diberi kebebasan untuk
mengekspresikannya, sehingga menimbulkan dinamika tingkah laku. Setiap tingkah
laku memilki citra (image) dan keunikan tersendiri sesuai sesuai apa yang
terdapat pada pelakunya. Tingkah laku disini bisa berupatingkah laku lahir
maupun tingkah laku batin atau kedua-duanya.Tingkah laku lahir ada yang
mencerminkan tingkah laku batinnya dan ada juga yang berbeda.Baik mencerminkan
atau tidak semuanya disebut dengan tingkah laku.
Ketiga, berdasarkan pendekatan psikolohid.Studi tentang
kepribadian dapat didekati dengan beberapa pendekatan, misalnya filsafat,
psikologi, antropologi, dan sebagainya.Psikologi Kepribadain Islam merupaka\n
studi kepribadain Islam yang dipandang dari sudut psikologi. Studi ini setidak-tidaknya
menggambarkan apa dan bagaimana tingkah laku manusia menurut pandangan Islam
yang ditimbulkan dari jiwanya.
Kempat, dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada Sang Khalik.Psikologi Kepribadain Islam mengkaji tingkah laku manusia dengan berpijak pada fungsi kehidupan manusia.Manusia adalah sebagai mandataris Sang Khalik untuk menjadai khalifah dimuka bumi.Dalam bertingkah laku, manusia selain diberi potensi fitrah, juga memiliki relasi sesamanya dan dikaruniai alam dan isinya untuk dikelola yang baik.Oleh karena kedudukan ini maka setiap realisasi tingkah laku manusia merupakan cerminan ibadah, baik berkaitang dengan Tuhan, diri sendiri, sesamanya, serta pada alam semesta.
Kempat, dalam relasinya dengan alam, sesamanya, dan kepada Sang Khalik.Psikologi Kepribadain Islam mengkaji tingkah laku manusia dengan berpijak pada fungsi kehidupan manusia.Manusia adalah sebagai mandataris Sang Khalik untuk menjadai khalifah dimuka bumi.Dalam bertingkah laku, manusia selain diberi potensi fitrah, juga memiliki relasi sesamanya dan dikaruniai alam dan isinya untuk dikelola yang baik.Oleh karena kedudukan ini maka setiap realisasi tingkah laku manusia merupakan cerminan ibadah, baik berkaitang dengan Tuhan, diri sendiri, sesamanya, serta pada alam semesta.
Kelima, untuk meningkatkan kebahagiaan hidup didunia dan
akhirat. Psikologi kepribadian Islam syarat akan nilai, yang dapat
menghantarkan kebahagiaan hidup manusia. Kebahagian yang dimaksud tidak
terbatas pada kebahagiaan duniawi yang sifatnya temporer dan semu, tetapi juga
kebahgiaan ukhrowi yang sifatnya abadi dan hakiki. Pda aspek ini, Psikologi
Kepribadain Islam bukan sekedar memotret dan mengidentifikasi tingkah laku
(bicara apa adanya), melainkan juga mengungkap bagaimana seharusnya tingkah
laku itu. Tentunya dalam hal ini tidak terlepas norma-norma baik-buruk yang
telah ditetapka oleh Sang Khalik.Oleh karena tujuan ini maka studi Psikologi
Kepribadain Islam diharapkan memiliki implikasi penting dalam kehidupan
manusia.
C. DINAMIKA
KEPRIBADIAN
Kepribadian
menurut psikologi islami adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia
yang menimbulkan tingkah laku. Aspek nafsani manusia memiliki tiga daya, yaitu:
(1) qalbu (fitrah ilahiyah) sebagai aspek suprakesadaran manusia yang memiliki
daya emosi (rasa); (2) akal (fitrah insaniah) sebagai aspek kesadaran manusia yang
memiliki daya kognisi (cipta); (3) nafsu (fitrah hayawaniyah) sebagai aspek pra
atau bawah kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa).Ketiga komponen
nafsani ini berintegrasi untuk mewujudkan suatu tingkah laku.Qalbu memiliki
kecenderungan natur ruh, nafs (daya syahwat dan ghadhab) memiliki kecenderungan
natur jasad, sedangkan akal memiliki kecenderungan antara ruh dan jasad. Dari
sudut tingkatannya, kepribadian itu merupakan integrasi dari aspek-aspek
supra-kesadaran (fitrah ketuhanan), kesadaran (fitrah kemanusiaan), dan pra
atau bawah sadar (fitrah kebinatangan). Sedang dari sudut fungsinya,
kepribadian merupakan integrasi dari daya-daya emosi, kognisi dan konasi, yang
terwujud dalam tingkah laku luar (berjalan, berbicara, dan sebagainya) maupun
tingkah laku dalam (pikiran, perasaan, dan sebagainya)12 . Kepribadian
sesungguhnya merupakan produk dari interaksi di antara ketiga komponen
tersebut, hanya saja ada salah satu yang lebih mendominasi dari komponen yang
lain. Dalam interaksi itu kalbu memiliki posisi dominan dalam mengendalikan
suatu kepribadian. Prinsip kerjanya cenderung pada fitrah asalmanusia, yaitu
rindu akan kehadiran Tuhan dan kesucian jiwa. Aktualitas kalbu sangat
ditentukan oleh sistem kendalinya.Sistem kendali yang dimaksud adalah dhamir
yang dibimbing oleh fitrah al-munazzalah (Al-Qur’an dan Sunnah).Apabila sistem
kendali ini berfungsi sebagaimana mestinya, maka kepribadian manusia sesuai
dengan amanat yang telah diberikan oleh Allah di alam perjanjian. Namun,
apabila sistem kendali berfungsi maka kepribadian manusia akan dikendalika oleh
komponen lain yang lebih rendah kedudukannya.
a. Kepribadian
Ammarah (nafsal-ammarah)
Kepribadian
ammarah adalah kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar
prinsip-prinsip kenikmatan (pleasure principle).Kepribadian ammarah mendominasi
peran kalbu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah sesuai dengan
naluri primitifnya, sehingga merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah
laku yang tercela.Kepribadian ammarah adalah kepribadian yang dipengaruhi oleh
dorongandorongan bawah sadar manusia.Barangsiapa yang berkepribadian ini, maka
sesungguhnya tidak lagi memiliki identitas manusia, sebab
sifat-sifathumanitasnya telah hilang. Manusia yang berkepribadian ammarah tidak
saja dapat merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak diri orang lain.
Keberadaannya ditentukan oleh dua daya, yaitu: (1) syahwat yang selalu
menginginkan birahi, kesukaan diri, ingin tau dan campur tangan urusan orang
lain, dan sebagainya; (2) daya ghadah yang selalu menginginkan tamak, serakah,
mencekal, berkelahi, ingin menguasai orang, keras kepala, sombong, angkuh, dan
sebagainya. Jadi orientasi kepribadian ammarah adalah mengikuti sifat
binatang.Kepribadian ammarah dapat beranjak ke kepribadian yang baik apabila
telah diberi rahmat oleh Allah SWT.Hal tersebut diperlukan latihan atau
riyadhah khusus untuk menekan daya nafsu dari hawa, seperti dengan berpuasa,
shalat, berdoa dan sebagainya.
b. Kepribadian
Lawwamah (nafsal-lawwamah)
Kepribadian
lawwamah adalah kepribadian yang telah memperolah cahaya kalbu, lalu ia bangkit
untuk memperbaiki kebimbangan antara dua hal. Dalam upaya yaitu kadang-kadang
tumbuh perbuatan yang buruk yang disebutkan oleh watak gelapnya, namun kemudian
ia diingatkan oleh nurilahi, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya
ia bertaubat dan beristighfar.14Hal itu dapat dipahami bahwa kepribadian
lawwamah berada dalam kebimbangan antara kepribadian ammarah dan kepribadian
muthmainnah. Kepribadian lawwamah merupakan kepribadian yang didominasi oleh
akal.Sebagai komponen yang memiliki sifat insaniah, akal mengikuti prinsip
kerja rasionalistik dan realistik yang membawa manusia pada tingkat
kesadaran.Apabila sistem kendalinya berfungsi, maka akal mampu mencapai
puncaknya seperti berpaham rasionalisme.Rasionalisme banyak dikembangkan oleh
kaum humanis yang mengorientasikan pola pikirnya pada kekuatan “serba” manusia,
sehingga sifatnya antroposentris.15 Akal apabila telah diberi percik annur
kalbu maka fungsinya menjadi baik.Ia dapat dijadika sebagai salah satu medis
untuk menuju Tuhan. Al-Ghazali sendiri meskipun sangat mengutamakan pendekatan
cita rasa (zawq), namun iamasih menggunakan kemampuan akal. Sedangkan menurut
Ibnu Sina, akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak dan akal juga mampu
menerima limpahan pengetahuan dari Tuhan.Oleh karena kedudukan yang tidak
stabil ini, maka Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi kepribadian lawwamah menjadi
dua bagian, yaitu: (1) kepribadian lawwamahmalumah, yaitu kepribadian lawwamah
yang bodoh dan zalim; (2) kepribadian lawwamah ghayrmalumah, yaitu kepribadian
yang mencela atas perbuatannya yang buruk dan berusaha untuk memperbaikinya
c. Kepribadian
Muthmainnah (nafsal-muthmainnah)
Kepribadian
muthmainnah adalah kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur kalbu,
sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat yang baik.Kepribadian ini selalu
berorientasi pada komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan
segala kotoran, sehingga dirinya menjadi tenang.Kepribadian
muthmainnahbersumber dari qalbu manusia, sebab hanya qalbu yang mampu merasakan
thuma’ninah (QS. Al-Ra’d, [13]: 28). Sebagai komponen yang bernatur ilahiah
qalbu selalu cenderung pada ketenangan dalam beribadah, mencintai, bertaubat,
bertawakkal, dan mencari ridha Allah Swt. Orientasi kepribadian ini adalah
teosentris (QS Al-Nazi’at [79]: 40-41).
17 Kepribadian
muthmainnah merupakan kepribadian atas dasar atau suprakesadaran manusia,
dengan orientasi kepribadian ini adalah teosentris.Dikatakan demikian sebab
kepribadian ini merasa tenang dalam menerima keyakinan fitrah.Keyakinan fitrah
adalah keyakinan yang dihujamkan pada roh manusia di alam arwah dan kemudian
dilegitimasi oleh wahyu Ilahi.Penerimaan ini tidak bimbang apalagi ragu-ragu
seperti yang dialami kepribadian lawwamah, tetapi penuh keyakinan.Oleh sebab
itu, kepribadian muthmainnah terbiasa menggunakan daya cita rasa (zawq) dan
mata batin dalam menerima sesuatu, sehingga Kepribadian muthmainnah merasa
yakin dan tenang.
D. TIPE
KEPRIBADIAN
1.
Tipe Mukmin
Yaitu mereka yang beriman atau percaya kepada yang ghaib
seperti (Allah, malaikat, dan ruh) menunaikan shalat, menafkahkan rezekinya
kepada fakir miskin dan yatim piatu, beriman kepada kitab Allah, dan beriman
kepada hari akhir. Tipe ini digolongkan sebagai tipe dengan beruntung (mufidh)
karena telah mendapatkan petunjuk.
2. Tipe Kafir
Yaitu mereka yang ingkar terhhadapp hal-hal yang dipercayai
sebagai seorang mukmin.Tipe seperti ini digammbarkan sebagai tipe yang sesat
karena terkunci hati, pendengaran dan penglihatannya dalam masalah kebenarannya.
3. Tipe Munafik
Yaitu mereka yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir,
tetapi imannya hanya di mulut belaka, senantiasa hatinya ingkar. Mereka ingin
menipu Allah dan orang mukmin, walaupun sebenarnya ia menipu dirinya sendiri,
sedang mereka tidak sadar.
E. PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN
Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak dapat disamakan
satu dengan yang lainnya. Tetapi secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Fase Pertama
Fase pertama
dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak mulai mengenal
dirinya sendiri.
2.
Fase Kedua
Fase ini
merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan mengembangkan
bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini berlangsung relative
panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tersebut
mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal
berikut:
a)
Dorongan-dorongan (Drives)
Unsur ini
merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang
selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu
keinginan.
b)
Naluri (Istinct)
Naluri
merupakan suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat
makhluk hidup.
c)
Getaran Hati (Emosi)
Emosi atau
getaran hati merupakan sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan
manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada manusia,
seperti senang, sedih, indah, serasi, dan yang lainnya.
d)
Perangai
Perangai
merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak
dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu
unsure dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasikan
oleh orang lain.
e)
Inteligensi (Intellegence
Quetient-IQ)
Intelegensi
adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang.
f)
Bakat (Talent)
Bakat pada
hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena
warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga,
berdagang, berpolitik, dan lainnya.
3.
Fase Ketiga
Pada proses perkembangan
kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terkhir yang ditandai dengan
semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dari orang tersebut. Pada fase
ketiga terjadi perkembangan yang relative tetap, yaitu dengan terbentuknya
perilaku-perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat
abstrak.
Setelah kepribadian terbentuk
secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu:
a)
Kepribadian Normative
Kepribadian ini merupakan tipe
kepribadian yang ideal, dimana seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat
untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil
sosialisasi pada masa sebelumya. Seseorang memiliki kepribadian normative apabila
terjadi proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan
terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe
ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat
menampung banyak aspirasi adri orang lain.
b)
Kepribadian Otoriter (Otoriter
Man)
Tipe ini terbentuk melalui proses
sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dari pada
kepentingan orang lain.
c)
Kepribadian Perbatasan
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian
yang relative labil di mana cirri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya
seringkali mengalami perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang itu mempunyai lebih dari satu corak
kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang
ini memiliki dualism budaya, misalnya karena proses perkawinan atau karena
situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya yang
berbeda.
BAB III
PENUTUP
Dari
penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Hakikat manusia antara
lain:
a) Manusia adalah Makhluk Allah
b) manusia
sebagai khalifah di bumi
c) manusia
dlah makhluk yang memiliki fitrah beragama
d)
manusia berpotensi
baik(taqwa) dan buruk(fujur)
e)
Manusia
Memiliki Kebebasan Memilih (Free Choice)
2. Dari
berbagai definisi di atas, maka dapat di simpulkan bahwa kepribadian adalah
kolaborasi antara akal, hati nurani, dan jiwa yang saling berinteraksi.Kepribadian
seseorang, selain bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan
genetika orang tuanya, ia juga terbentuk melalui proses panjang riwayat
hidupnya. Proses intemalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya.
3.
Id/nafsu,
ego/akal,dan Superego/ Qalbu, merupakan tiga unsur
kepribadian.
4.
Manusia adalah makhluk yang netral, kepribadiannya itu bisa
berkembang seperti malaikat,
bisa juga seperti syetan. Hal ini amat bergantung kepada pilihannya tadi, apakah manusia mengisi jiwa atau
kalbunya dengan ketakwaan atau dengan fujur. Apabila yang dipilihnya itu
ketakawaan, maka kalbu (fungsi rohaniah
sebagai perpaduan antara akal dan rasa) akan menggerakkannya untuk berperilaku yang bermakna (beramal shaleh) dan berpribadi
mulia. Tetapi apabila yang
dipilihnya itu "fujur", maka dia akan berpribadi mufsid (pembuat keonaran
di muka bumi), biang kemaksiatan.
5. Ada dua macam tipe
kepribadian, yaitu tipe kepribadian mu’min, dan tipe kapribadian kafir,
sedangkan tingkatan kepribadian ada tujuh macam, yaituAn-Nafs al-Ammarah, An-Nafs
al-Lawwamah, An- Nafs Qana’ah, An- Nafs
al-Mulhima, An-Nafs al-Mut’mainnah, An-Nafs
al-Radiyah, An-Nafs Kamila.
B. SARAN
Berdasarkan
pembahasan yang telah penulis paparkan,penulis berharap kepada para pembaca
agar bisa mengetahui tentang kepribadian dalam perspektif islam, karena kepribadian menjadi masalah
urgen di era ini. Karya ilmiah ini di susun, selain sebagai bahan bacaan juga
bertujuan memberikan pengertian penting tentang kepribadian.
DAFTAR
PUSTAKA
Taufiq,
Muhammad Izzudin.2006.Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam.Jakarta:
Gema Insani
Az-Zahrah,
Musfin Bin Said Bin Muhammad.2009. Konseling Terapi. Jakarta: Gema
Insani